Banyak yang tidak menyadari bahwa media massa memiliki dua wajah. Dalam mitologi Yunani kuno, media massa bagaikan sang Dewa Janus. Sisi bisnis dan sisi idealisme media yang bagaikan dua sisi sebuah koin, tidak selalu berhasil hadir dalam konteks saling menguatkan. Tampaknya hanya media massa yang sektor bisnisnya telah relatif mapan yang memiliki peluang luas untuk mengembangkan idealisme. Bukan berarti media massa yang ‘kecil’ pasti gagal untuk beridealisme, namun media massa yang besar cenderung lebih tahan terhadap tekanan untuk menjadi tidak idealis.
Persoalannya, benarkan pemikiran tersebut terjadi?
Jawabannya: ternyata tidak!
Komitmen pemilik dan pengelola media massa lebih menentukan arah sinergi idealisme dan bisnis media. Industri radio di Indonesia adalah salah satu contoh menarik. Ketika belanja iklan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung stabil pada pertumbuhan sekitar 25% per annum, belanja iklan radio justru menukik tajam. Beberapa versi meyakini bahwa belanja iklan radio hanya sekitar 1.4% dari total belanja iklan di Indonesia. Dalam keadaan yang demikian menyesakkan dada, para profesional pengelola dan pemilik radio tetap semangat untuk mengembangkan idustri radio di Indonesia.
Pada titik ini, para pengelola radio wajib menunjukkan kepiawaian mereka untuk membuktikan kompetensi manajerial yang dimiliki. Industri radio memanglah sebuah perpaduan antara seni, hobby dan bisnis. Tampaknya perpaduan inilah yang seringkali berhasil menyelamatkan industri radio dari ‘kepunahan’. Radio berhasil survive dari ancaman atas hadirnya layar pertama, televisi. Radio juga berhasil bertahan ketika para pendengarnya terpesona dengan layar kedua, komputer. Kini, radio tampaknya juga bakal sanggup menahan gempuran layar ketiga, mobile devices. Semoga! [*]
November 13, 2008
Categories: Media Business . Tags: kompetensi manajerial, radio . Author: ronnymustamu . Comments: Leave a Comment