Survey Kompetisi Radio

Kawan,

Rupanya banyak yang mengalami kesulitan membuka berkas survey saya, karena email yang saya kirim secara otomatis melakukan perubahan sehingga alamat situs tiba-tiba mengalami tambahan beberapa ‘spasi” di beberapa bagian alamat. Akibatnya, banyak yang gagal mengakses situs. Sungguh hal ini merugikan, karena banyak partisipasi jadi gagal.

Berikut saya coba tuliskan alamat itu di sini, barangkali bisa lebih mudah. Ada dua jenis kuesioner, tergantung Anda suka yang mana (yang pendek atau yang panjang).

Versi pendek (bisa klik di sini) alamatnya adalah:

http://www.surveymonkey.com/s.aspx?sm=KH5EX4nS2bswEanEykkO3Q_3d_3d

Click Here to take survey

Versi panjang dua halaman (bisa juga klik di sini) alamatnya adalah:

http://www.surveymonkey.com/s.aspx?sm=x_2fpUZkGzNUQA1kvk5p3x9Q_3d_3d

Click Here to take survey

Terima kasih atas partisipasi teman-teman profesional radio yang budiman.

Salam dan sukses selalu,
Ronny Mustamu

Komitmen Pemilik dan Kompetensi Manajerial

Banyak yang tidak menyadari bahwa media massa memiliki dua wajah. Dalam mitologi Yunani kuno, media massa bagaikan sang Dewa Janus. Sisi bisnis dan sisi idealisme media yang bagaikan dua sisi sebuah koin, tidak selalu berhasil hadir dalam konteks saling menguatkan. Tampaknya hanya media massa yang sektor bisnisnya telah relatif mapan yang memiliki peluang luas untuk mengembangkan idealisme. Bukan berarti media massa yang ‘kecil’ pasti gagal untuk beridealisme, namun media massa yang besar cenderung lebih tahan terhadap tekanan untuk menjadi tidak idealis.

Persoalannya, benarkan pemikiran tersebut terjadi?
Jawabannya: ternyata tidak!

Komitmen pemilik dan pengelola media massa lebih menentukan arah sinergi idealisme dan bisnis media. Industri radio di Indonesia adalah salah satu contoh menarik. Ketika belanja iklan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung stabil pada pertumbuhan sekitar 25% per annum, belanja iklan radio justru menukik tajam. Beberapa versi meyakini bahwa belanja iklan radio hanya sekitar 1.4% dari total belanja iklan di Indonesia. Dalam keadaan yang demikian menyesakkan dada, para profesional pengelola dan pemilik radio tetap semangat untuk mengembangkan idustri radio di Indonesia.

Pada titik ini, para pengelola radio wajib menunjukkan kepiawaian mereka untuk membuktikan kompetensi manajerial yang dimiliki. Industri radio memanglah sebuah perpaduan antara seni, hobby dan bisnis. Tampaknya perpaduan inilah yang seringkali berhasil menyelamatkan industri radio dari ‘kepunahan’. Radio berhasil survive dari ancaman atas hadirnya layar pertama, televisi. Radio juga berhasil bertahan ketika para pendengarnya terpesona dengan layar kedua, komputer. Kini, radio tampaknya juga bakal sanggup menahan gempuran layar ketiga, mobile devices. Semoga! [*]

‘Third Screen’ dan Masa Depan Komunikasi Indonesia

Saya baru saja dikunjungi seorang kolega dari Salatiga yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kami berdiskusi tentang perkembangan internet, baik dari sisi fenomena komunikasi maupun fenomena bisnis. Saya langsung jadi ingat seorang kolega lain yang berada di Gainesville, Florida. Sylvia Chan-Olmsted, pernah berbagi tentang penelitiannya tentang mobile television deployment strategy dalam forum the US Institute on Journalism and Media 2008.

Memang pesatnya perkembangan teknologi informasi menyebabkan muncul pula ‘kebingungan’ terhadap sebutan sebuah alat (device). Telepon genggam, misalnya, sekarang menjadi sulit identifikasi. Apakah alat tersebut masih layak disebut sebagai telepon genggam, ataukah telah menjadi komputer mini yang ditambahi fasilitas telepon; ataukah disebut sebagai radio yang dilengkapi komputer dan telepon; ataukah televisi yang bisa digunakan untuk mendengar siaran radio, berkomunikasi ala telepon serta bekerja sebagaimana layaknya sebuah komputer lengkap dengan jaringan internetnya.

Read More…

‘Computer-Autism’: a phenomenon or metamorphosis ?

Hari Senin yang lalu saya ‘numpang’ di dua kelas yang berbeda, dari dua departemen yang berbeda dan diajar oleh dua orang profesor yang berbeda. Kesamaan kedua kelas itu adalah: profesor yang mengajar adalah ‘best professors’ dari University of Florida.

Alasan mengapa saya menengok kelas tersebut adalah untuk menyerap cara para profesor terbaik dalam mengelola kelas mereka. Kedua kelas tersebut (satu bisnis dan satu filsafat) sangat hidup, diskusinya juga sangat baik. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam diskusi terkesan menjalankan tugas belajarnya dengan baik. Mereka mempelajari materi perkuliahan sebelum masuk ruang kelas.

Read More…

Is Second Life Truly Our Picture of the Future?

The discussion with Lauren Hertel and Gary Ritzenthaler , both scholars and online journalism experts of University of Florida, about Second Life was really strucking me. Their presentation has been successfully open my eyes and brain on the possibilities of the future.

However, seems we need to discuss and to ponder or to contemplate deeply on all consequences re: Second Life (SL). SL sounds cool, futuristic and provides lots of ‘space’ to be explored. The question will be: how can someone manage his/her ‘First Life’ if he/she has been so busy with SL? What kind of psychological nature people can have due to SL?

For sure, SL will definitely change some human ‘nature’, change the landscape of social relationships/networks. There will be huge discussions re: the concept of family and relationships.

So far, it is not easy to determine whether SL will provide better life for our ‘regular’ FL.

Mencoba Piranti Lunak Soundslide

Kawan,

Maaf, ini hanya percobaan untuk memuat slideshow. Jadi, mohon dipahami kalau masih terdapat kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan. Semoga semuanya segera menjadi lebih baik dan lebih enak dinikmati.

Materi ini adalah tentang wawancara saya dengan seorang Bapak, namanya Bob McDonald, ketika menemani anaknya menjalani masa orientasi mahasiswa baru selama dua hari di University of Florida.

Beginilah ceritanya [Klik di sini]:

What Is the ‘Face’ of Future Media?

Lauren Hertel, scholar and international trainer of College of Journalism and Communications University of Florida, was quite true when she response on the issue of the future of mass media. “It is not about what (kind of) media will survive, but it is more on what company will survive.” This strong statement was made during the discussion with the participants of the Institute on Journalism and Media at Gainesville campus July 11, 2008.

The media convergence has been bringing lots of debates regarding the future of mass media. Radio owners and professionals will be amazed to figure out that there is a technology for visual radio. A large radio network in USA plans to follow its European and Asian counterparts using the cutting-edge technology of integrating voices, texts, and visual graphics. At the same time, newspaper industry has been struggling in adjusting its products to online media. The print reporters are asked to enrich their capability from writing skills into videography skills. TV reporters, anchors, and producers are putting their efforts to grab young viewers via webcasting. This reality is triggering the ‘old’ question about the future of mass media industry.

Since uncertainty is very human, can we just ignore what so called idealism and simply serving whatever mass media audiences need and want? Can we just simply accept Mindy McAdams, University of Florida, for saying “objectivity is an ideal concept, but not easy to do it” ?

This new trend will definitely be changing the patterns and styles of competition within mass media industry. Think to ponder: what is the ‘face’ of future media?

Is There A Future for Printed Media?

The proliferation of new media, however, is an unavoidable phenomenon. It is a reality!

The fast development of information and communication technology provides unlimited accesses to the internet. There are bunches of free facilities people can have through the internet. The meaning of journalism and the definition of journalist become debatable. At the same time, the growing concern on environmental issues has been creating a ‘less paper’ society.

The subscription numbers of newspapers are significantly decreasing (or deminishing?). The 20-40 years old population is hardly reading newspaper but local issues and sports. To make it worse, TV stations have been consuming bigger percentage of advertising expenditures.

Now, the question is: “Is there a future for printed media?”

US Independence Day: still relevant?

What makes US Independence Day so important?

A society with full of spirits on localism. How the way US citizens maintain its nationalism? How they determine patriotism?

Care to Share?

Weblog: Belajar Menjadi ‘Muda’

Kawan,

Tampaknya kalimat usia akan mengalahkan selera tidaklah tepat untuk digunakan. Kini generasi tua pun dapat dengan mudah mengikuti perkembangan anak-anaknya melalui teknologi. Weblog merupakan salah satu jawaban. Tidak saja untuk memahami persoalan anak muda, weblog ternyata juga sangat bermanfaat untuk kepentingan lainnya yang berharga dalam hidup ini.

Mindy McAdams, pengajar online journalism dari College of Journalism and Communications, University of Florida mengungkapkan bahwa wordpress dan berbagai fasilitas weblog lainnya telah memberi dunia begitu banyak peluang bagi dunia. Weblog yang pada mulanya sering disalahpahami sebagai ‘diary’, kini dapat dimanfaatkan untuk mengajar.

Dalam program Institute on Journalism and Media 2008, Mindy melihat bahwa teknologi weblog merupakan jawaban terhadap kebutuhan masa depan. Jadi, sebaiknya setiap tenaga pengajar segera menguasa teknologi ini agar dapat membantu generasi muda untuk hidup lebih baik, sekaligus memudahkan kehidupannya sendiri.

Gainesville, Florida
July 7, 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.