Is Second Life Truly Our Picture of the Future?

The discussion with Lauren Hertel and Gary Ritzenthaler , both scholars and online journalism experts of University of Florida, about Second Life was really strucking me. Their presentation has been successfully open my eyes and brain on the possibilities of the future.

However, seems we need to discuss and to ponder or to contemplate deeply on all consequences re: Second Life (SL). SL sounds cool, futuristic and provides lots of ’space’ to be explored. The question will be: how can someone manage his/her ‘First Life’ if he/she has been so busy with SL? What kind of psychological nature people can have due to SL?

For sure, SL will definitely change some human ‘nature’, change the landscape of social relationships/networks. There will be huge discussions re: the concept of family and relationships.

So far, it is not easy to determine whether SL will provide better life for our ‘regular’ FL.

10 Comments

  1. Second life. Games ini memang seru banget dibahas. Tapi saya tidak pernah memainkan. Kalau di Indonesia main games ini, bangkrut. Tagihan internet super bengkak. Tapi versi offlinenya ada, The Sims. Melihat kepopuleran The Sims, games bertemakan hidup yang tidak senyatanya ini sangat digemari. Hahahaha… Menyediakan impian yang tak terjangkau sih. Kalau di kehidupan nyata jelek, bisa jadi keren kurus dan banyak yang suka.
    Dan memang harus diakui, karena waktu untuk memainkan games model begini ini sangat banyak, tentu first life atau real life nya berantakan. Interaksi dengan orang lain jadi terputus. Tapi menrut saya, tanpa perlu games model Second Life, ada banyak hal yang sudah menggantikan kehidupan nyata seseorang. Seperti MSN, YM, email, blog, forum,dll. Karena semua itu meminimalkan pertemuan dan percakapan secara mulut, tapi percakapan dilakukan dengan tangan.
    Bahkan pengalaman saya sendiri, saya kadang sedang berhadapan dengan teman saya, kami berdua membawa laptop, menyalakan MSN dan ngobrol by msn, even we are in one table. Bukan karena kalau ngobrol verbal, ga bisa denger, tapi karena bingung kalau mau ngobrol verbal. WOW. Tentu pengalaman ini juga berlaku untuk beberapa teman blogger saya. Kopdar, isinya bukan ngobrol verbal, malah msn/ym dan foto-foto yang ujungnya untuk dipamerkan di blog.
    Jadi, soal first life berantakan atau tidak, itu tentu urusan masing-masing pribadi. Bagaimana dia dapat mengatur hidupnya dan kemauannya untuk hidup dalam kenyataan.

    Karena kenyataan memang pahit :)

  2. Ini sangat menarik, menurut Sharon (Alderina) SL itu masuk kategori ‘Game’, ya? Sangat menarik, karena setahu saya SL banyak dibahas sebagai ‘Social Networking’. Artinya, melalui SL, orang bisa saling berkomunikasi dengan tidak ‘copy darat’. Konon, lebih bebas namun penuh etika.
    Hanya saja, saya berpikir tentang bagaimana dampaknya terhadap kondisi psikologis ‘First Life’ (FL), baik pelaku SL maupun keluarganya (kalau ada), ya?

  3. SL : game
    karena saya langsung nyambung dengan website yang menyediakan layanan ini dan teringat dengan The Sims. Jadi impresi pertamanya ya langsung game :)

    Tapi aku juga menyetujui kalau SL itu merupakan social networking di dunia yang maya, tidak ada kopi daratnya loh pak :)

    Kenapa juga aku berpikir SL itu game? Karena itu tidak benar-benar nyata. Bisa saja seseorang menipu, karena kita tidak pernah bertemu dengan orang itu dan kecenderungan SL adalah membuat kepribadian kedua yang menurut orang itu lebih baik daripada kepribadian aslinya.

    Lalu, soal kondisi psikologis… hmm… sepanjang pengamatan kasar saya, ada yang jadi nggak nyambung dengan kondisi FL tapi ada juga yang tetap menjadi normal. Kembali pada pribadinya juga ya… Tapi pasti mengganggu sekali untuk orang lain yang ada di sekitarnya kalau kehidupan SL jadi prioritas. SL membutuhkan waktu juga, jadi waktu untuk FL terpotong dan interaksi dengan orang2 FL di sekitarnya menjadi sangat kurang… Menurut aku juga, kalau seseorang kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan FL nya, tentu kualitas hubungannya jadi rendah dan akhirnya dia merasa SL lebih baik. Lingkaran setan, berputar-putar terus…

    Hm…. itu sih, pengamatan kasar saya.

  4. Ada apa gak ya kemungkinan terjadinya ‘computer autism’ (istilah saya).
    Apakah mungkin suatu saat orang sibuk mengarahkan matanya ke monitor komputer, tanpa terlalu peduli apa yang ada di sekitarnya karena terlalu sibuk dengan apa yang sedang terjadi/muncul di monitor komputernya?
    Kemarin saya ’sit in’ untuk mengamati perkuliahan dua orang dosen terbaik. Satu dari Departemen Administrasi Bisnis dan satunya dari Departemen Filsafat.
    Ada kemiripan. Di kedua kelas tersebut saya temukan ada mahasiswa yang selama perkuliahan tampak asyik dengan laptopnya. Pada mulanya saya pikir mereka sedang mencatat apa yang sedang dibahas oleh profesornya. Tapi, yang saya temukan (karena saya duduk pas di belakangnya), ternyata mahasiswa tersebut sedang membuat presentasi ‘power point’ yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan kelas saat itu.
    Ini sangat menarik bagi saya, karena orang bisa saja tanpa sadar mengalami ‘computer autism’. Terlalu peduli dengan monitor komputernya, tidak peduli dengan konteks yang sedang terjadi di sekitarnya.

  5. Pak.. kenapa cuma kita berdua yang diskusi ya? hihihihihi.. gpp. I enjoy this…

    Menurut saya, computer autism itu sudah terjadi. Tanpa internet dan segala macam SL thingy, orang sudah memiliki penyakit itu. Mungkin terutama pada mereka yang sering berkecimpung di dunia design, film, editing, programmer, or a full time blogger. Hahahahaha.. alias orang yang kerjaannya ngeblog karena di FLnya ga terlalu sibuk, atau sengaja tidak menyibukkan diri?

    Contohnya adalah saya dan adik saya sendiri. Sampai lupa waktu dan orang di sekitar terutama kalau sudah membaca blog orang lain, cerita di blog sendiri, liatin milis dst. Kalau adik saya waktu dia membuat animasi. Level saya masih normal, level dia sudah kurang normal. :P and he admitted it.

    Sekali lagi ya pak, kepuasan mengekpresikan diri itu dapat dengan mudah dicapai di dunia komputer. Sebab komputer menerima kita apa adanya dan manusia selalu memberi jawaban dan sanggahan terhadap pemikiran kita.

    Kok ujung2nya ya tentang penerimaan diri ya? Memang itu yang menjadi pemikiran utama saya.

    Tapi juga, melalui komputer, kita dapat bekerja dengan lebih efisien, sehngga seseorang mungkin sekali memiliki 2 pekerjaan.

    Well, saya jadi tertarik membahas kerja di rumah… dan kayanya sudah nggak nyambung..

  6. Talking about future..

    I really think that SL is not a future thingy, but a nowadays thingy. So, futurenya udah terjadi sekarang….

  7. ok.. sekarang saya sudah hetrix…

    Sir, maybe you want to check out this http://chickenstrip.wordpress.com/

    He said,

    Fun? Banget! Exist? Pasti! Ngabisin waktu? Tentu!
    Lalu kenapa hal yang sebagian orang anggap nggak penting ini justru banyak digilai dan jadi menu utama browsing bahkan sepanjang jam kerja?
    Kalau Abraham Maslow masih hidup mungkin beliau bakal membuat piramida kebutuhan versi dunia web, dan yang ada di puncak adalah microblogging, ngejunk di milis atau aplikasi-aplikasi facebook. Yayaya “lompatan logika 2.0″, aktualisasi diri online hehehe.

  8. Ada banyak alasan:
    ‘Melepas’ kejenuhan.
    ‘Menjalankan’ pekerjaan.
    Atau… ’simply’ tidak bertanggungjawab.

  9. Does anyone knows what should we expect in 2010? they promise more problems on wall stree? I are heading toward dipression?

  10. I wonder if web industry affected by crisis as well? and to what extend? Will the admins continue this web?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment