Hari Senin yang lalu saya ‘numpang’ di dua kelas yang berbeda, dari dua departemen yang berbeda dan diajar oleh dua orang profesor yang berbeda. Kesamaan kedua kelas itu adalah: profesor yang mengajar adalah ‘best professors’ dari University of Florida.
Alasan mengapa saya menengok kelas tersebut adalah untuk menyerap cara para profesor terbaik dalam mengelola kelas mereka. Kedua kelas tersebut (satu bisnis dan satu filsafat) sangat hidup, diskusinya juga sangat baik. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam diskusi terkesan menjalankan tugas belajarnya dengan baik. Mereka mempelajari materi perkuliahan sebelum masuk ruang kelas.
Melihat semua pemandangan itu, tentu saya terkesima. Beginilah proses belajar di negara maju. Bahkan profesornya tidak perlu bersusah payah menjelaskan definisi dan tahapan. Semua mahasiswa telah membaca beragam hal yang bersifat deskriptif. Akibatnya, kelas memiliki waktu yang cukup untuk berdiskusi, saling mengasah dan saling memperdalam kompetensi di bidang studinya.
Satu-satunya yang mengganggu pikiran saya adalah kenyataan bahwa di kedua kelas tersebut ada beberapa mahasiswa yang, sepanjang kelas berjalan, berkutat dengan laptops mereka. Dari depan mungkin terkesan bahwa mereka sedang mencatat setiap alur diskusi yang terjadi. Tapi, karena saya duduk di belakang mereka, sangat jelas buat saya bahwa mereka sedang melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan subjek perkuliahan yang mereka hadiri.
Sesungguhnya, jika dicermati dengan baik, akan secara gamblang terlihat bahwa arah perhatian mata mereka terfokus pada layar monitor laptop mereka. Tidak terlihat bahasa tubuh yang mengarah pada upaya mereka untuk menyimak perkuliahan.
Saya jadi berpikir: apakah mereka sedang mengalami apa yang saya sebut sebagi ‘computer-autism’? Perilaku ketagihan komputer yang menyebabkan seseorang tidak bisa melepaskan hidupnya dari layar monitor komputer.
Di sini lain, saya pun berpikir, jangan-jangan ini cuma metamorfosis akibat kehadiran teknologi. Zaman saya kuliah dulu juga ada mahasiswa yang hadir, tapi tidak peduli dengan perkuliahan. Alih-alih menyimak atau mencatat pengetahuan yang didapat dalam perkuliahan tersebut, mereka malah membaca majalah atau mengerjakan sesuatu hal yang lain. Biar kelihatan dari depan, seakan-akan sibuk.
5 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment




sayangnya di fikom laptop dibawa cuman buat gegayaan aja, padahal ya gak dipake buat apa-apa. dikelaspun laptop nyala juga buat fs ato chating,kadang malah gak dipake..
apa kabar pak ronny? senang ya keliling dunia teruss ..
–> emiliana.ayundra.putri — 51405164 <–
^^
Emiliana,
Adalah biasa kalau sesuatu yang baru itu membutuhkan waktu dalam pe-maksimalan-nya.
Yang penting, apakah ada ‘gejala’ untuk selalu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Termasuk di dalamnya adalah perubahan pemanfaatan laptop dari peran asesoris menjadi lebih fungsional untuk kemajuan kompetensi dan pengembangan pribadi serta karakter.
Kaya aku dong, bawa laptop kalau mau buat tugas dan cari internet gratis. Hahahahaha..
Internetan untuk menulis di blog. Wuah, keren banget deh gue..
Autis itu sebenarnya kan pinter banget pal. Bagus dong, pinter komputeran. Aku pikir, daripada repot, kuliahnya pakai videocast aja pak, jadi dia bisa berada di ruangan itu, memakai komputer dan internet tapi tetep mendapatkan pelajaran. Hahahahaha.. Kok kelihatannya autis sekali orang itu.. berada di satu ruangan tapi membutuhkan internet untuk berkomunikasi
Pak, sepertinya saya harus mengambil kursus bahasa Indonesia. Banyak yang lupa..Bakunya gimana, tanda baca bagaimana… Malu, orang Indonesia kok bahasa Indonesianya jelek banget.
kalau monica sih bawa laptop ke kampus cuma pas kerja kelmpk dan butuh untuk dikerjain langsung.. males banfet bawa berat2.. lagian klo di indo kan laptop masi tergolong barang sedikit agak mewah, nggak smu pada pnymenjamur si iya tp penggnaanya blum se eksis hp mkskujd nggak enak aja rasanya tenteng2 notebook emana2 bergaya pny duit hihi. klo dikelas pling pol buka laptop klo tgs yg mo dikumpulin blum kelar tp hrs ikut pelajaran haha. komen buat y
internetan di kelas – kok bisa sih? cuma mo ngabsen doang yha? tapi sejujurnya monica lebih suka langsung mencatat bahan perkuliahan di laptop.. 1. ngirit kertas – ky slogan us embassy ’save the paper’, 2 ngirit tip ex, 3 ngirit bolpoin, 4 ngirit waktu.. coz klo mo buka datanya tinggal langsung ke folder yg dituju.. takut mata rusak cos kelamaan at layar kompie? kan dah ada screen protector.. ing yg sedih mbak nya kopma klo qt pke data digital – bhn perkuliahan di transfer lwt flashdisc then… no one will go there to copy those files anymore.. hihi, gtu deh…
menurutku penyimpangan pasti ada di setiap perkemvangan – efek samping kemajuan technology tapi maanfaat nya lebih banyak kok – tinggal bagaimana di sosialisasikan nya aja sisi siti positif nya
eh tapi.. pas pelajaran .. desain grafis ma pss yan di lab T monica juga kadang buka internet sih – pas dosenya jeda – g ngai penjelasan untuk kelas tp y nggak ngasi tugas apa apa.. lha wong bengong, dr pd toleh toleh ngoceh2 malah ngrameni.. y udah, jatuh lah pilihan ke internet^^