‘Third Screen’ dan Masa Depan Komunikasi Indonesia

Saya baru saja dikunjungi seorang kolega dari Salatiga yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kami berdiskusi tentang perkembangan internet, baik dari sisi fenomena komunikasi maupun fenomena bisnis. Saya langsung jadi ingat seorang kolega lain yang berada di Gainesville, Florida. Sylvia Chan-Olmsted, pernah berbagi tentang penelitiannya tentang mobile television deployment strategy dalam forum the US Institute on Journalism and Media 2008.

Memang pesatnya perkembangan teknologi informasi menyebabkan muncul pula ‘kebingungan’ terhadap sebutan sebuah alat (device). Telepon genggam, misalnya, sekarang menjadi sulit identifikasi. Apakah alat tersebut masih layak disebut sebagai telepon genggam, ataukah telah menjadi komputer mini yang ditambahi fasilitas telepon; ataukah disebut sebagai radio yang dilengkapi komputer dan telepon; ataukah televisi yang bisa digunakan untuk mendengar siaran radio, berkomunikasi ala telepon serta bekerja sebagaimana layaknya sebuah komputer lengkap dengan jaringan internetnya.

Tampaknya fenomena teknologi ini tidak hanya berimbas pada perilaku komunikasi, tetapi juga membuka lebar peluang terjadinya bisnis. Melihat penetrasi internet Indonesia tahun 2007 termasuk dalam daftar 20 besar dunia (ranking 15 dengan 18 juta pengguna atau 18 % penetrasi, jauh di atas Australia, ranking 18, dan Taiwan, ranking 19), sudah barangtentu fenomena munculnya ‘layar ketiga’ dalam kehidupan kita menjadi semakin nyata.

Telepon genggam disebut sebagai layar ketiga (third screen), setelah manusia (pernah dan masih) demikian tergantung pada layar pertama (televisi) dan layar kedua (monitor komputer). Ketika televisi memasuki pasaran, demikian besar peminatnya. Demikian juga ketika komputer merangsek ke dalam pasar Indonesia, permintaan (hingga kini) juga masih sangat tinggi. Saya yakin bahwa kehadiran telepon genggam lengkap dengan fasilitas sebagai ‘layar ketiga’ akan memperkaya pasar Indonesia dengan keragamannya. Keyakinan tersebut menjadi semakin kuat ketika biaya telekomunikasi di Indonesia berusaha untuk selalu diturunkan (meskipun masih terasa terlalu mahal dibanding kemampuan rakyat Indonesia memperoleh pendapatan). Apalagi penduduk Indonesia semakin memandang telepon genggam secara konsumtif dan dari sudut pandang ‘harga diri sosial’. Artinya, telepon genggam sesungguhnya cenderung dikonsumsi (lengkap dengan features yang menyertainya) sebagai ‘bukti sosial’. Bukti bahwa sang pemilik sanggup membeli, entah bayar kontan atau kredit. Entah beli di toko resmi atau di pasar gelap. Yang penting punya!

2 Comments

  1. wah baru denger nih third screen, ttp blajar dr Mr Ronny meskipun nggak lg ambil kelas :)
    iya fenomena mobile phone di indonesia emang hebat banget.. dr kalangan paling bawah yg cari hp bundling dg harga 250ribuan sampai kalangan atas yang antri blackberry bold, bahkan di mal taman anggrek ada toko yang spesialisasinya hp kelas atas (luna, siroco, and other gold plated or diamond embedded phones). nikmati aja dulu sebelum ada fourth screen..

  2. wah rasanya saya pernah termasuk dalam kategori penduduk yang memandang dari sudut pandang konsumtif yang tidak melihat fungsi utama hp, bahkan saya menjadi orang yang peling sering minta ganti hp daripada anggota keluarga saya yang lain…hanya karena gengsi pake hp yg jadul..(sampai saat ini saya sudah ganti 5 kali tipe hp walau hp-hp yg pernah saya miliki bukan hp yang terlalu mahal kalau dilihat dr segi harga) tapi untung saya tidak pernah kredit..hehehehheehe…saat ini saya sudah agak bertobat krn merasakan sendiri ternyata bekerja untuk dapat uang itu susah, saya akhirnya berpikir2 jika mau ganti hp toh hp saya saat ini sudah sangat memenuhi persyaratan sebagai sebuah alat komunikasi walaupun tidak terlalu canggih juga (tidak ada 3G). ternyata internship membawa berkah juga untuk menyadarkan mahasiswa seperti saya ini yg seringnya menuntut ke orang tua menjadi sadar bahwa cari uang itu ngga gampang rek.. ^^
    sedikit share dari saya, mahasiswa yang sedang mencari jalan hidup…hehehehehe


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment